Kamis, 13 Oktober 2016

Badan POM Dukung Praktik Kefarmasian yang Bertanggung Jawab

Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) 2016 yang diselenggarakan oleh Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) pada 27-30 September 2016 di Yogyakarta telah usai. Kini saatnya pihak-pihak yang terlibat bersinergi untuk mewujudkan tema Rakernas "Developing Pharmacist Role for Better Quality of Life in Asean Economic Comunity Era". Berbagai ide baru yang dihasilkan dalam rakernas harus diimplementasikan secara nyata sebagai upaya meningkatkan peran dan eksistensi Apoteker Indonesia dalam Sistem Jaminan Kesehatan Nasional ke depan.

Apoteker sebagai ujung tombak pelayanan kefarmasian memiliki peran penting untuk memastikan obat yang dikonsumsi pasien terjamin aman, berkhasiat, dan bermutu. Berbagai peran kefarmasian harus dilakukukan secara bertanggung jawab oleh para Apoteker sepanjang rantai produksi dan distibusi obat hingga ke tangan konsumen. Praktik kefarmasian yang bertanggung jawab merupakan langkah awal untuk membangun kredibilitas Apoteker di mata masyarakat.

Kepala Badan POM, Penny K. Lukito dalam sambutan pembukaan Rakernas IAI menyampaikan bahwa peran Apoteker dalam praktik kefarmasian yang bertanggung jawab harus ditegakkan sebagai garda terdepan untuk mencapai keberhasilan pengawasan yang dilakukan Badan POM. Tantangan pengawasan ke depan yang semakin besar tentu membutuhkan kerja sama yang sangat erat antara Badan POM dengan IAI, karena di setiap jalur life-cycle obat yang diawasi terdapat peran Apoteker. “Amanah besar telah diberikan kepada Badan POM untuk melindungi masyarakat dan memberikan jaminan keselamatan, keamanan, serta mutu Obat dan Makanan,” tegas Penny.


Kontribusi Badan POM dalam optimalisasi peran profesi kefarmasian dikedepankan melalui pembinaan dan kemitraan. Upaya pembinaan dilakukan dengan penyusunan berbagai pedoman teknis yang digunakan tenaga kefarmasian dan peningkatan kompetensi tenaga kefarmasian. Sementara itu, program kemitraan diimplementasikan bersama organisasi profesi dengan membuat program kewaspadaan obat ilegal, peningkatan mutu produk bersama asosiasi pelaku usaha, dan kajian mutu obat bersama Perguruan Tinggi.

Ketua Umum IAI, Nurul Falah Eddy Pariang menegaskan komitmen IAI bahwa Apoteker siap berpraktik yang bertanggung jawab, terlebih setelah maraknya peredaran obat palsu di Indonesia. IAI sangat mendukung kebijakan pemerintah, tentunya disertai masukan yang bersifat membangun. Menurutnya Rakernas dan PIT kali ini dengan 32 simposium, 86 presentasi oral, serta ratusan presentasi poster menunjukkan bahwa Apoteker memiliki keinginan besar untuk menambah pengetahuan dalam rangka praktik yang bertanggung jawab. Nurul berharap Rakernas yang dihadiri 1.821 orang peserta ini dapat menjawab tantangan dunia farmasi guna mewujudkan komitmen bangsa menghadapi dunia kesehatan khususnya kefarmasian di Indonesia.

Saat ini Indonesia merupakan The New Emerging Market di Asia. Di sisi lain jika melihat pangsa pasar Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sebesar 600 juta, posisi Indonesia dengan penduduk 250 juta orang merupakan pasar terbesar di ASEAN. Hal inilah yang memicu perkembangan industri farmasi nasional kian pesat, dimana dari seluruh industri farmasi yang ada, sebanyak 78% industri farmasi nasional mendominasi pangsa pasar. Dengan demikian peran Apoteker melalui praktik kefarmasian yang bertanggung jawab sangat menentukan dalam rangka pengembangan farmasi guna meningkatkan kualitas kesehatan bangsa di masa depan. (HM-Fathan)  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"Di Antara Pagi dan Senja"

Pagi masih terlalu dini untuk siapa pun membuka mata. Langit belum sempat mengusir sisa-sisa malam, dan dunia masih dibungkus sunyi. Tapi ak...