Kamis, 13 Oktober 2016

BPOM Pastikan Standar Produksi Baik di Dexa Grup

Kepala Badan POM, Penny K. Lukito beserta jajarannya melakukan kunjungan kerja ke PT Ferron Par Pharmaceuticals dan PT Anugrah Argon Medica di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang-Bekasi (16/09/16). Kunjungan diterima langsung oleh Presiden Direktur Dexa Group, Ferry A. Soetikno; Direktur PT Ferron Par Pharmaceuticals, Krestijanto Pandji; Direktur PT Anugrah Argon Medica, V. Hery Sutanto beserta jajarannya. Kunjungan ke kedua perusahaan ini bertujuan untuk memastikan bahwa proses produksi dan distribusi obat berjalan baik sesuai dengan standar yang berlaku.

Acara dimulai dengan presentasi sejumlah Pimpinan Dexa Medica Grup, kemudian dilanjutkan kunjungan ke beberapa sarana produksi dan distribusi. Dalam paparannya Ferry A. Soetikno mengungkapkan sejarah perjalanan perusahaan yang dipimpinnya dengan memproduksi dan mengembangkan berbagai obat bermerek maupun obat generik berlogo (OGB). Selama lebih dari 47 tahun berdiri, Dexa Medica Grup juga telah memiliki dua Dexa Research Center yaitu Dexa Laboratories of Biomoleculer Sciences dan Dexa Development Center.

Pengembangan riset ini merupakan komitmen Dexa Medica Grup untuk melakukan riset menggunakan biodoversitas Indonesia sebagai upaya untuk membangun kemandirian bahan baku obat dan pengembangan obat herbal. Pasalnya Indonesia sebagai megabiodiversity terbesar di dunia saat ini baru memiliki delapan fitofarmaka, empat diantaranya produksi Dexa. Untuk itu pengembangan obat asli Indonesia perlu ditingkatkan, meskipun ia menyadari riset obat herbal mahal.


Merespon hal ini, Penny sangat mendukung pengembangan obat herbal di Indonesia, terlebih Presiden Joko Widodo sangat memperhatikan jamu sebagai warisan budaya yang patut dikembangkan. Jika ini dikembangkan dengan serius bukan tidak mungkin obat asli Indonesia nantinya dapat masuk dan bersaing di kancah global. Indonesia harus berdiri di depan memimpin dengan produk obat herbalnya. Pasalnya saat ini obat herbal China sudah masuk ke berbagai belahan dunia hingga Eropa dan Amerika.

Sementara itu, Penny mengungkapkan rencana Badan POM membuat Quick Response Code (QR Code) pada kemasan obat yang terintegrasi dengan database di Badan POM. Hal ini bertujuan untuk memastikan obat yang digunakan aman, berkhasiat, dan bermutu. Selain itu, penggunaan QR Code dapat mempersempit zona peredaran obat ilegal/palsu yang saat ini marak ditemukan Badan POM. Jadi pelaku usaha dan masyarakat dapat lebih terlindungi dari kerugian akibat peredaran obat ilegal/palsu.

Menanggapi hal itu, sejumlah pimpinan Dexa Grup menyampaikan masukan diantaranya dengan meminta pertimbangan dampak positif dan negatif penggunaan QR Code pada kemasan. Pencetakan QR Code pada kemasan dapat berpengaruh pada biaya produksi yang akan mempengaruhi harga obat. Namun demikian jika ini sudah menjadi komitmen pemerintah, industri akan mematuhi selama diberikan masa transisi yang cukup panjang untuk mempersiapkan infrastruktur produksi. (HM-Fathan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"Di Antara Pagi dan Senja"

Pagi masih terlalu dini untuk siapa pun membuka mata. Langit belum sempat mengusir sisa-sisa malam, dan dunia masih dibungkus sunyi. Tapi ak...